Yasmin Tak Pernah Berdusta

Yasmin Tak Pernah Berdusta

Senin, 21 Juli 2025

SETAhttps://eu6.proxysite.com/process.php?d=8yS8siBHJ5y8kbtHakE7B3Gd5Qp4qKq%2Bgq5Kw7PzOpFnXoqU%2Fg%3D%3D&b=1NGKAI BUNGA YASMIN (SBY)

Dalam semak belukar kau tumbuh
Padang belantara hadirmu
Tertindi dalam ketandusan
Terhimpit binatang buas
Dipagut ular berbisa menebar pesona
Memancarkan Kembang putih cemerlang

Wahai bunga diremeh sepelekan
Diantara Tumbuhan liar kau ada
Dalam kegersangan ditanah subur
Mencolok  dipandang mata
indah menawan para kelana
Tampak menghiasi bumi persada,

Duhai Sekuntum Bunga Yasmin
Menebar aroma dirgantara
semarakmu dipetik ditanam  di istana
Terpatri bunga kesumah bangsa  
semerbak menerpah mewangi  sudah
Menambah indah corak warna-warni Singgasana

Wahai puspa pujaan hati insani
 Kini menjadi harapan bangsa
Berkembang trus hiasi negri
Nusantara jaya permai
Negara damai dan makmur
Ibu pertiwi tersenyum kini

Medio, Pebruari 2004
By. Akang Inu (OPO)

Jumat, 04 November 2011

SEPASANG MERPATI PUTIH

Menyusuri lembah, ngarai dan pohon-pohonan
Mendaki bukit, gunung tinggi nan terjal
Melewati aliran sungai sejuknya air
Menumbus awan-awan menjejaki langit
Merambat kabut melewati diinginnya alam

Beranjangkan ranting dedaunan kering
Berbaring diatas puncak-pucuk
Berselimut buluh-buluh bertendakan rimbunan daun
Berbantalkan ketiak sayap semata

Halimun menyelimuti dini hari
Pajar merekah indahnya panorama
Hangat mentari tanpa terasa
Tubuh kedinginan menggigil tiada tara
Paru mengeluar uap dan embun

Pagi ceria melantunkan kidung
Berdendang ria menyanyikan lagu asmara
Melanglang buana diwaktu siang
Terbang menjejaki kampung dan kota

Ditaman yang indah berpagar besi
Hiruk pikuk manusia mondar-mandir
Pekik desing bunyi kendaraan
Melayang-layang di pasar empat lima
Melangkah diatas tali-temali tiang listrik

Kelepak sayap bersama mengikuti gang kota
Menara gedung menjulang nun tinggi
Bertengger dalam tingkap-tingkat shopping center
Cinema yang indah asyik ditonton

Perut keroncongan, memagut remah California
Pemuas dahaga tetesan air Rivera
Matahari menyingsing saat pulang mudik
Mengukir kisah merenda kenangan
Merpati dua sejoli terbang dua sekawan

Senin, 31 Oktober 2011

SURATAN ALAM

Matahari terbit di ufuk timur memancarkan cahaya
Bumi bersuka menyambut datangnya hari
Mega menari –nari bayu bersiul melantun dendang
Burung-burungpun ikut bermain sambil bernyanyi
Langit berkeringat meneteskan embun
Tumbuh-tumhan melepaskan dahaga
Anak-anak manusia terjaga

Guruh menabu gendang kontra bass
Petir menyorot pijaran kelap kelip
Bulan dan Bitang tidur nyenyak
Crakrawala menikmati irama nonstop
Serdadu langit kelelahan
Angin sepoi kehabisan tenaga

Awan mendung terlelap
Guntur bersemangat menjadi murka
Kilat ikut menyambar menyilaukan
Alam semesta berduka cita
Sambil menagis meneteskan airmata
Jagat menggil kedinginan

Segala Makluk berlindung ketakutan
Hujan dan Panas silih berganti
Siang dan malam kejar-kejaran
Pagi pun tiba sinar sejuk terasa
Siang temaran kegerahan
Mentari redup merujuk saat sore

Fajar menyingsing belahan barat
Guna menjemput jelang malam
Menyongsong subuh dini hari
Dingin dan panas bergantian
Habis gelap terbitlah terang
Bumi bulat gampang berputar

Zaman beredar membawa perubahan
Alam semesta menjadi suntuk
Bumi pun ikut pula renta
Makluk pun datang dan pergi
Manusia Hanyalah semu
Hukum Alam itulah Takdir

TUHAN Khalik Yang Kekal

Jumat, 28 Oktober 2011

KELUHAN DAN HARAPAN

Tuhan !
Delapan belas tahun sudah
cinta tak pernah punah
Kasih tak pernah lapuk
Sayang tak pernah lekang
Perasaan tak pernah pudar
Meresap dalam kalbu...
Terukir dalam raga

Tuhan !
Mengapa ...semua ini terjadi ?
Cinta yang terpatri dalam sanubari
Memilikipun sudah tak pernah
Menikmatipun tak bisa

Tuhan !
Bisakah takdir kuraih ?
Kuingin menggapai cinta
mengharapkan Kasih dan sayang
Bersama dia yang kudambahkan
mungkinkan dia dan aku kan bersatu
menjalin kasih mengikat raga
Harapan jadi kenyataan

Tuhan !
Masa depanku, Kebahagianku hanya padanya
Hidup yang kumiliki ...kujalani seluruhnya hanya untuk dia
Bersamanya sampai akhir hayat dikandung badan
Cintaku padanya takkan pupus
kasih sayangku takkan sirna
Kucinta dia hingga ajalku

Tuhan !
Kunanti saatnya tiba
Kutunggui masa dan waktunya
Kebahagian kan ku miliki
Bersama dia jantung hatiku
Belahan jiwa dan ragaku


Senin, 16 Oktober 2003

CINTA DAN DENDAM

Alangka panjang jarak membatasi kita
Sedangkan benang cinta tak terjalin
Kugapai cinta tak kunjung tiba
Kuraih kasih sayang namun tak sampai
Bumi bergoncang langit pun runtuh
Harapan pupus kenyataan menjauh

Kudekap asmara namun lepas sudah
Kudaki harapan sirna punah
Badai menghempas topan melanda
Tinggal kecewa kini tiba
Kupendam benci kumikiki dendam
Kubawa derita kini pun nanti

MIMPI

DIPAGI PAGI YANG KELAM
MENTARI REDUP TERTUTUP AWAN
LANGIT BERSEDIH BUMI MENGGIGIL
BUANA LARUT DALAM DUKA CITA

RINDU BERTAHTA DALAM DADA
ANGAN MELAYANG MERASUK SUKMA
JIWA MERANA INGIN BERSUA
SUKMA BERKELANA, ROH MENJELAJAH

DALAM TIDUR BERJUMPA DIA
BIDADARI BERGAUN PUTIH
RAUT WAJAH TERLIHAT SAYU NAN KUSAM
DALAM MIMPI KUDEKAP KUPELUK KUCIUM
KUBELAI KUBAWA PERGI

DIPERSIMPANGAN KAU RAIB
KUBERSUA PANGGIL NAMAMU
NAMUN TANPA JAWABAN
KUCARI-CARI BERSAMA AIRMATA
TAPI TAK KUTEMUI..

DALAM LINANGAN KUTERJAGA
TERCURAH AIRMATA MENYESAL SUDAH
BILA KETEMU TAKKAN KULEPAS